Selasa, 09 Desember 2014

Perubahan Positif

Anak : “Ibu, mengapa cabe ini bisa berubah warna? Kemarinkan masih berwarna hijau, hari ini sudah berwarna merah.”

Seorang anak dengan rasa ingin tahu, bertanya pada ibunya.  Pernahkah kita memikirkan seperti apa yang dipikirkan anak kecil tadi? Pernahkah kita memikirkan siapa yang bewarnai cabe itu hingga berwarna merah atau buah mangga yang jika mentah dagingnya berwarna putih sedang jika masak dagingnya berwarna kuning matang? J

Subhanallah, setiap tanaman memiliki proses metabolisme sendiri-sendiri sehingga ia juga mempunyai siklus sendiri. Bunga, buah, biji, tunas, dan seterusnya. Allah mengatur setiap kehidupan di bumi sedemikian rupa sehingga setiap makhluk hidup dapat bermanfaat satu dengan yang lainnya.

Begitu pula dalam hidup ini, haruslah selalu lakukan perubahan. Sekecil apapun perubahan itu. Baik pada diri sendiri atau orang lain. Sejatinya setiap tanaman mengalami perubahan dalam setiap siklusnya dari biji hingga dapat menghasilkan buah atau sayur yang sangat dinantikan si pemilik tanaman. Begitupun manusia, perubahan dari kecil hingga menjadi seperti saat ini sangatlah dinanti oleh orang tua kita.

Setelah mengharapkan tanaman cepat berbuah untuk dipanen, si pemilik tanaman juga pastinya menginginkan buah yang dihasilkan manis, besar, biji kecil, daging banyak, dll. Begitu pula orang tua kita, selalu mengharapkan anaknya melakukan perubahan yang positif dalam hidupnya. Sehingga menjadi orang sangat disukai oleh temannya karena kebermanfaatannya, karena tutur katanya, dan karena perilakunya.

Hiduplah dengan selalu lakukan perubahan positif, sahabatku. Karena dengan perubahan itu, engkau bisa menjadi orang yang beruntung, Nabi Muhammad SAW bersabda “barang siapa hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang beruntung, barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin dialah tergolong orang yang merugi dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dialah tergolong orang yang celaka” (HR Hakim)



“Dan sungguh pada hewan-hewan ternak terdapat suatu pelajaran bagimu. Kami memberi minum kamu dari (air susu) yang ada dalam perutnya, dan padanya juga terdapat banyak manfaat untukmu, dan sebagian darinya untuk kamu makan.” QS Al Mu’minun 20.

Anniyatus Sholihah

>Sebutir Tasbih Kasih

Wanita ini menangis tatkala melihat beberpa butir nasi yang jatuh diinjak oleh orang ketika ia sedang menimati makan di sebuah warung. Memang tak ada permasalahan, tak ada yang perlu dibenarkn. Tetapi adalah suara hati. Dia adalah seorang pedagang sayur. Usianya yang renta, keriput tulang pipi dan kulitnya, tak membuat ia lelah meskipun statusnya kini seorang janda tanpa dikaruniai seorang anak. Terkadang kerinduan yang mendalam akan kasih sayang, mendamba seorang anak sholeh atau sholehah terlenakan kesayuan akan fikiran dan nuraninya. Akan tetapi, ia bersyukur dengan apa yang miliki sekarang, yaitu mengisi hatinya dengan sang suami dengan rasa bahagia, karena diberikan oleh Allah SWT berbagai anugerah dan memungkinkan sepenuhnya untuk mengapresiasikan segala hal yang muncul dalam kehidupan barunya

Rencana Allah SWT memng tidak ada yang tahu, termasuk takdir. Ujian terberat dialami wanita ini, suaminya meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas ketika hendak berangkat kerja. Sungguh baginya gelap dan luluh sudah harapan, impian, keinginan bersama, berbagi, suka, duka. Tetesan air mata ia tumpahkan dalam limpahan sujud dan tasbihNya. Tidak akan hanyut dan menyia-nyiakan, ia optimis untuk berusaha untuk meningkatkan perolehan anugerah-Nya yang lain dan mampu menerima keadaan sekarang sebagai kenyataan, dan Insya Allah akan terasa ringan dan bisa menghadapi setiap sisi hidup dengan rasa bahagia sebagaimana layaknya Kehadiran Cahaya yang Akan Membuat Kegelapan Segera Menghilang dan Sirna. Ia bangkit dan siap bahwa Allah SWT selalu bersamanya.

Apalagi hatinya remuk apabila hal yang sekali seperti gumpalan butir nasi yang jatuh di jalan tadi. Baginya, sebutir nasi yang berasal dari padi ibarat langkah hidup yang berawal dari kelimpahan kasih sayang dan kelincahan orang tua yang telah merawat, membesarkan, serta mengajarkan arti kehidupan yang cerdas dan berakhlak. seperti bibit padi yang ditanam, lalu disiram, dan dirawat hingga tumbuh subur. Lalu menghasilkan sang padi yang berbentuk lonjong melancip di sisi atas dan bawah yang mengibaratkan kekuatan dalam menjalani hidup dan bagian tengah yang melebar dan padat ibarat rezeki dari Allah SWT, dan laranganNya untuk tidak serakah ketika mendapat rezeki. mencukupi kebutuhannya dan yang pasti amal jariyah J



Dalam Q.S Al-Ankabuut ayat 17  yang artinya “ Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain dari Allah SWT tidaklah kuasa memberi rezeki kepadamu. Mintalah rezeki kepada Allah, Sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya, dan hanya kepada-Nya lah kamu akan kembali.”                                                                                                                                                               Al miftah_sejuk di mata_sejuk di hati J          
                                                                                                                             -Wulan Arfina Ryani